Blog Konsultasi gratis

Panduan untuk orang tua

Coding untuk Anak di Era AI: Apa yang Sebenarnya Perlu Dipelajari?

Banyak orang tua mendengar kata coding dan langsung membayangkan layar penuh huruf, angka, dan kode yang sulit dipahami.

Tapi cara anak belajar coding hari ini sudah banyak berubah. Dan justru perubahan inilah yang penting untuk dipahami.

Di halaman ini, kita akan membahas beberapa pertanyaan yang mungkin sedang Anda pikirkan: Kapan anak sebaiknya mulai belajar coding? Apa yang sebenarnya perlu dipelajari? Dan bagaimana memilih kelas coding yang tepat di era AI?

Yang berubah sejak AI bisa menulis kode

Selama bertahun-tahun, belajar coding identik dengan mempelajari sintaks dan menulis kode baris demi baris. Salah titik koma, salah kurung, program bisa berhenti bekerja.

Sekarang, AI bisa membantu menulis banyak bagian tersebut dalam hitungan detik.

Tapi itu bukan berarti belajar coding menjadi tidak penting.

Justru ada kemampuan lain yang menjadi semakin penting: menentukan apa yang ingin dibuat, memecah ide menjadi langkah-langkah, mencoba, menguji, menemukan masalah, memperbaikinya, dan menyelesaikan proyek sampai benar-benar bisa digunakan.

Karena dalam membangun sesuatu, menulis kode hanyalah salah satu bagian dari proses.

Tantangan sebenarnya adalah membawa sebuah ide sampai menjadi sesuatu yang nyata.

Sejak tahun ajaran 2025/2026, Koding dan AI masuk ke sekolah

Mulai tahun ajaran 2025/2026, Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) ditambahkan sebagai mata pelajaran pilihan dalam kurikulum nasional Indonesia. Penerapannya dilakukan secara bertahap, mulai dari SD kelas 5–6, SMP kelas 7–9, dan SMA/SMK kelas 10, dengan alokasi 2 jam pelajaran per minggu. Untuk SMA kelas 11–12, alokasinya dapat ditingkatkan hingga 5 jam, sementara SMK kelas 11–12 hingga 4 jam, menyesuaikan struktur kurikulum.

Di jenjang SD, pembelajarannya lebih banyak berfokus pada berpikir komputasional dan literasi digital dasar. Seiring jenjang pendidikan meningkat, siswa mulai diperkenalkan pada pemrograman berbasis blok, pemrograman berbasis teks, hingga pemanfaatan AI.

Yang perlu diperhatikan adalah kata “pilihan”.

Sekolah dapat menyediakan mata pelajaran ini sesuai kesiapan dan sumber daya yang dimiliki, sementara siswa dapat memilihnya sesuai minat. Sekolah juga memiliki fleksibilitas untuk mengembangkannya melalui kegiatan ekstrakurikuler atau mengintegrasikannya dengan mata pelajaran lain.

Artinya, pengalaman belajar coding dan AI seorang anak masih bisa sangat berbeda antara satu sekolah dan sekolah lainnya. Sumber: Koding dan KA, Kemendikdasmen.

Jadi, mulai umur berapa?

Banyak program coding sudah memperkenalkan coding sejak usia dini, misalnya melalui permainan dan blok visual. Pendekatan seperti ini bisa menjadi cara yang menyenangkan untuk mengenalkan logika dan berpikir komputasional.

Di Akademi21, kami mulai dari usia 9 tahun. Ini merupakan pilihan yang disengaja.

Di usia tersebut, banyak anak sudah mulai mampu mengikuti sebuah proyek yang lebih panjang: memiliki ide, mengerjakannya selama beberapa minggu, menemukan masalah di tengah jalan, lalu mencari cara untuk menyelesaikannya.

Jadi, fokusnya bukan sekadar seberapa cepat anak bisa mengetik kode.

Yang ingin kami latih adalah kemampuan untuk membawa sebuah ide sampai menjadi karya yang benar-benar jadi.

Kalau AI yang menulis kodenya, anak saya belajar apa?

Ini mungkin pertanyaan yang paling sering muncul.

Pada dasarnya, ada perbedaan besar antara menggunakan AI untuk membuat sesuatu dan memahami cara bekerja bersama AI untuk membuat sesuatu.

Misalnya, anak bisa saja meminta AI membuat sebuah aplikasi, lalu langsung menerima hasilnya tanpa memahami apa yang dibuat. Ketika muncul masalah, ia mungkin tidak tahu harus mulai memperbaikinya dari mana.

Di Akademi21, kami menggunakan pendekatan yang berbeda, yang kami sebut agentic engineering.

Anak belajar menentukan apa yang ingin dibuat, menjelaskan kebutuhannya kepada AI, memeriksa hasilnya, menguji apakah hasil tersebut bekerja, mencari kesalahan, lalu melakukan perbaikan.

AI membantu mengerjakan bagian yang memang bisa dibantu AI.

Anak tetap menjadi orang yang menentukan arah dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya.

Karena itu, kami tidak terlalu berfokus pada seberapa cepat seorang anak dapat menulis kode.

Kami lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih sederhana:

“Apa yang berhasil kamu buat?”

Apa yang sebenarnya dibuat anak?

Menurut kami, salah satu cara paling mudah untuk melihat kualitas sebuah kelas adalah dengan melihat apa yang tersisa setelah proses belajar selesai.

Bukan hanya catatan.

Bukan hanya sertifikat.

Tapi karya yang bisa dilihat dan digunakan.

Di Akademi21, siswa dapat mengerjakan berbagai proyek seperti:

Tujuannya bukan membuat semua anak menjadi programmer.

Tujuannya adalah memberi mereka pengalaman menciptakan sesuatu dengan teknologi, dari ide sampai menjadi karya yang nyata.

Enam hal yang layak ditanyakan sebelum memilih kelas

Sebelum mendaftarkan anak ke kelas coding atau AI, ada beberapa pertanyaan sederhana yang mungkin membantu:

  1. Berapa siswa dalam satu kelas?
    Dan seberapa banyak waktu yang benar-benar didapat anak untuk bertanya, berdiskusi, dan praktik?
  2. Setelah beberapa bulan, apa yang bisa ditunjukkan anak saya?
    Apakah ada karya nyata yang bisa dibuka, dimainkan, atau dimasukkan ke portofolio?
  3. Siapa yang akan mendampingi anak saat mengalami kesulitan?
    Belajar membuat sesuatu pasti akan menemui error dan kebuntuan. Yang penting adalah bagaimana mentor membantu anak melewatinya.
  4. Bagaimana format dan jadwal kelasnya?
    Apakah online atau offline? Apakah jadwalnya konsisten setiap minggu?
  5. Apa saja yang perlu disiapkan di rumah?
    Perangkat, software, akun, atau hal lain yang perlu diketahui orang tua sejak awal.
  6. Apakah saya bisa berkonsultasi terlebih dahulu?
    Karena program yang tepat untuk satu anak belum tentu tepat untuk anak lainnya.

Bagaimana Akademi21 menjalankannya?

Akademi21 memiliki tiga program yang disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan siswa:

Semua program dilaksanakan secara online, sehingga siswa dapat belajar dari mana pun.

Format
Online, dari kota mana pun
Frekuensi
2× seminggu, 60 menit per sesi
Ukuran kelas
Maksimal 6 siswa
Mentor
1 mentor per kelas

Yang perlu disiapkan di rumah

Untuk mengikuti kelas, siswa membutuhkan:

Hanya Rp2.000.000/bulan

Book sesi konsultasi di bawah untuk mendapatkan harga yang terbaik.

Kami ingin orang tua memahami dulu program yang akan diikuti anak sebelum membuat keputusan.

Karena itu, Anda bisa menjadwalkan sesi konsultasi gratis bersama kami. Ceritakan usia anak, apa yang sedang ia sukai, dan pengalaman belajarnya sejauh ini. Kami akan membantu menjelaskan program dan langkah yang paling sesuai.

Jadwalkan konsultasi gratis

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah kelas diadakan secara offline atau online?

Seluruh kelas Akademi21 diadakan secara online, sehingga siswa dapat mengikuti kelas dari mana pun.

Apa yang perlu saya persiapkan untuk mengikuti kelas?

Siswa membutuhkan laptop dengan webcam, koneksi internet yang stabil, langganan Claude AI Pro, dan akun Gmail. Jika anak belum memiliki akun Gmail sendiri, akun orang tua dapat digunakan.

Anak saya belum pernah menggunakan AI. Apakah tetap bisa ikut?

Bisa. Kurikulum kami dirancang untuk membantu siswa mengenal dan menggunakan AI secara bertahap, termasuk memahami cara memberikan instruksi, memeriksa hasil, dan memanfaatkan AI sebagai bagian dari proses berkarya.

Berapa banyak siswa dalam satu kelas?

Maksimal 6 siswa per kelas. Jumlah ini kami batasi agar setiap siswa tetap memiliki cukup kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan mendapatkan pendampingan dari mentor.

Berapa lama durasi dan frekuensi setiap sesi?

Kelas berlangsung 2 kali seminggu, dengan durasi 60 menit setiap sesi.

Masih bingung program mana yang cocok?

Tidak semua anak harus mulai dari tempat yang sama.

Kalau Anda ingin mengetahui program yang paling sesuai, ceritakan kepada kami usia anak dan apa yang sedang ia sukai. Kami akan membantu memetakan langkah pertamanya.

Jadwalkan konsultasi gratis